Senin, 20 Mei 2013

RELEKSI "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 13: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketiga)"


Setelah membaca Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 13: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Ketiga), diketahui bahwa para matematikawan logicits dan formalist menggunakan metode logika dan metode formal baru mencakup separoh dari dunia yaitu dunia yang terbebas dari ruang dan waktu. Sedangkan separoh dunianya lagi belum tersentuh oleh mereka yaitu dunia yang terikat oleh ruang dan waktu. Sehingga gabungan dari kedua dunia itulah yang kemudian di dapatkan dunia yang seutuhnya dan semua karya-karya para kaum foundationalist tidaklah lengkap karena memang mereka ingin mempertahankan kekonsistenasiannya (hanya menjangkau dunia separonya).

 Support by: http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_1390.html


REFLEKSI "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 14: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Keempat) "

Dunia yang utuhnya adalah dunia yang terikat oleh ruang dan waktu, dunia seutuhnya terdapat dua prinsip yaitu prinsip identitas dan prinsip kontradiksi. Kontradiksinya filsafat dan kontradiksinya matematika itu berbeda, begitu juga dengan kontradiksinya kaum logicist dan formalist berbeda dengan kontradiksinya dunia hakekat.  Kontradiksinya kaum logicist-formalist itu berarti tidak konsisten pada sistem matematikanya, sedangkan kontradiksinya dunia hakekat itu bukan identitasnya unsur-unsur Matematikanya.

REFLEKSI "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 16: Apakah Matematika Kontradiktif (Bagian Keenam) "

      Dari Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 16: Apakah Matematika Kontradiktif (Bagian Keenam), kita menjadi tahu bahwa unsur Dasar pembentuk Sistem Matematika merupakan relasi atau hubungan sifat antara dua atau lebih unsur singular.
      Ada dua prinsip atau hukum dasar dunia yaitu hukum identitas dan hukum kontradiksi. hukum identitas berbunyi "suatu diri unsur adalah diri unsur itu sendiri"; secara matematika dinyatakan sebagai "a=a". Semua hukum yang tidak sesuai dengan hukum identitas disebut hukum kontradiksi.

REFLEKSI "Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 15: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Kelima)"


Dari Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 15: Apakah Matematika Kontradiktif? (Bagian Kelima), kita menjadi tahu bahwa unsur-unsur dari sistem matematika ialah bilangan, simbol-simbol, karakter, variabel, variabel kata, dan variabel kalimat. Para matematikawan logicist dan formalist hanya menemukan dunia separohnya yaitu hanya terbebas dari ruang dan waktu. Ada unsur-unsur yang terbebas dari ruang dan waktu, misalnya adalah 4+2=6, jika tidak ada unsur ruang dan waktu maka dia bersifat universal dan absolut terhadap ruang dan waktu.

 Support by: http://powermathematics.blogspot.com/2010/09/elegi-pemberontakan-pendidikan_2600.html

REFLEKSI "Peta 1 - Peta Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest "



Setelah membaca dan mencoba memahami tabel peta pendidikan dunia yang Bapak Marsigit buat dari Paul Ernest ini, saya menjadi mengerti bahwa di pendidikan dunia ini di kelompokan menjadi lima kelompok yaitu industrial trainer, pragmatism, old humanism, progressive educator, dan public educator. Kelimanya memiliki karakteristik yang berbeda-beda dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Pada kaum progressive educator dan public educator tampak bahwa jika diterapkan kedua dunia pendidikan tersebut, maka aktivitas pembelajaran tidak akan monoton atau lebih bervarisai (inovasi). Namun, semua itu kembali kepada kebutuhan siswa. Mohon maaf apabila saya salah pemahaman. Terimakasih..


support by: http://powermathematics.blogspot.com/2012/11/peta-1-peta-pendidikan-dunia-dibuat.html

REFLEKSI "Peta 2 - Peta Pendidikan Dunia _ Dibuat oleh Marsigit dari Paul Ernest "

Dari tabel peta 2 pendidikan dunia, lebih dijelaskan lagi mengenai perbedaan dari kelima dunia pendidikan tersebut. Perbedaan tersebut terlihat seperti pada masyarakat industrial trainer dan technological pragmatist menganggap siswa adalah empty vessel atau tong kosong, yang keduanya itu lebih bersifat tradisional. Pada masyarakat old humanist menganggap siswa memerlukan adanya pembangunan karakter pada diri siswa. Sedangkan pada masyarakat progressive educator lebih berorientasi pada siswa dalam kegiatan pembelajaran, dan pada masyarakat public educator menekankan pada pengembangan siswa dalam proses pembelajaran. Masyarakat progressive educator dan public educator keduanya lebih memerhatikan siswa atau lebih berorientasi pada perkembangan siswa dan termasuk dalam pembelajaran yang inovatif.